Iklan

Wednesday, June 17, 2026, June 17, 2026 WIB
Last Updated 2026-06-22T00:03:46Z
Bekasi

Perang Iran–AS Memanas, Dompet Warga Bekasi Ikut Terbakar?

Advertisement


 Perang Iran–AS Memanas, Dompet Warga Bekasi Ikut Terbakar?


Siapa sangka, dentuman konflik di Timur Tengah bisa mengguncang dapur rumah tangga warga Bekasi. Ketika dunia menyoroti ketegangan Iran dan Amerika Serikat, masyarakat Kabupaten Bekasi justru harus menghadapi kenyataan pahit: daya beli melemah dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) baru menyentuh angka 35 persen.


Pertanyaannya, apakah Bekasi sedang membayar harga dari perang yang bahkan tidak terjadi di tanah air?


Kabupaten Bekasi adalah salah satu jantung industri Indonesia. Ketika konflik global memanas, harga minyak dunia biasanya ikut melonjak. Selat Hormuz, jalur yang menjadi nadi distribusi energi dunia, kembali menjadi sorotan. Jika pasokan terganggu, efek dominonya bisa terasa hingga ke warung sembako, ongkos transportasi, dan tagihan kebutuhan sehari-hari masyarakat.


Yang kaya mungkin hanya mengencangkan ikat pinggang. Yang pas-pasan terpaksa mengurangi isi piring.


Ketika harga kebutuhan pokok naik, masyarakat akan lebih memilih mempertahankan kebutuhan hidup daripada memenuhi kewajiban lainnya. Uang yang biasanya dipakai untuk konsumsi, rekreasi, atau bahkan membayar pajak, beralih untuk bertahan hidup.


Bukan karena warga tak mau berkontribusi, tapi karena kemampuan membeli terus tergerus.


Di sisi lain, kawasan industri Bekasi juga menghadapi ancaman ketidakpastian. Jika biaya impor bahan baku naik, ekspor melambat, atau investor memilih menahan ekspansi, dampaknya bisa merembet ke pekerja: lembur berkurang, bonus tertunda, bahkan ancaman pemutusan hubungan kerja menjadi momok yang menghantui.


Yang jauh terdengar seperti konflik geopolitik. Yang dekat terasa seperti isi dompet yang makin tipis.


Namun, akan terlalu sederhana jika seluruh persoalan PAD hanya disandarkan pada konflik Iran–AS. Rendahnya realisasi pendapatan daerah juga bisa dipengaruhi oleh efektivitas pemungutan pajak, optimalisasi aset daerah, kepatuhan wajib pajak, hingga strategi pemerintah dalam menggali potensi pendapatan.


Tetapi satu hal yang sulit dibantah:


Ketika perang membuat harga-harga naik, rakyat kecil selalu menjadi pihak yang paling cepat merasakan dampaknya.


Bekasi mungkin tidak mengirim pasukan ke Timur Tengah. Namun jika gejolak global terus berlanjut, bukan tidak mungkin masyarakat Bekasi ikut membayar ongkosnya—melalui harga kebutuhan pokok yang meningkat, daya beli yang melemah, dan perlambatan ekonomi daerah.


Perang mereka, tapi rakyat kecil yang menghitung setiap rupiah di akhir hari.